Nama Grameen Bank (Bank Desa) dan Mohammad Yunus yang mendirikannya tiba-tiba menjadi tidak asing. Nobel Perdamaian 2006 dianugerahkan untuk mereka. Padahal Grameen Bank (GB) telah dirintisnya lebih dari 30 tahun lalu berawal dari sebuah desa bernama Jobra di Bangladesh.
Yunus mendedikasikan hadiah nobel perdamaian ini dalam semangat pilihannya, yakni keberpihakan total nan cerdas untuk kaum papa, istimewanya kaum perempuan. Hadiah Nobel sebesar 1,36 juta dollar AS akan dipakainya untuk menghasilkan makanan bergizi, murah dan juga untuk perawatan mata, pengadaan air minum dan pelayanan kesehatan (Kompas 14/10).
Pastilah, dengan karisma sekaligus kepiawaian managerialnya sebagai bankir dan ekonom, Hadiah Nobel itu akan menolong lagi jutaan orang. Sebagaimana juga karya GB selama ini telah mendorong aktivitas perekonomian lebih dari 6,6 juta nasabahnya yang 97 persen adalah perempuan miskin, tersebar di 71,371 desa di Bangladesh, melalui 2,226 cabangnya (data Mei, 2006). Mereka mendapat pinjaman kredit mikro antara 20-50 dolar. Dewasa ini, total kredit yang disalurkan mencapai lebih dari 5,1 milyar dolar AS.
GB maupun maupun Yunus pantas disebut sebagai ikon revolusi melawan sistem perbankan konvensional. Berbeda dengan cara tradisional itu, GB membuka akses perbankan yang selama ini tertutup untuk kaum papa miskin; yakni dengan tidak mensyaratkan adanya jaminan untuk mendapatkan kredit dan membangun sebuah sistem yang disebut sebagai kredit mikro. Pitt and Khandker (1998) merumuskan bahwa sistem keuangan mikro GB yang revolusioner itu dicirikan oleh lima prinsip dasar yakni (1) kredit GB hanya diperuntukan bagi kaum papa-miskin (terutama perempuan), (2) kesepakatan dengan para peminjam dilakukan dalam kelompok, (3) dan karenanya mengandalkan kekuatan moral sosial (group peer pressure) untuk menjamin pengembalian (4) mensyaratkan agar peminjam menabung di bank, (5) dan track record kredit yang baik menjadi syarat bagi pinjaman lanjutan untuk kelompok.
Pendeknya, sebagai ganti jaminan selaku syarat mendapatkan kredit, GB mensyaratkan, serentak mencontohkan dan mendidik nasabahnya mengembangkan kapasitas ekonomi mereka melalui integritas moral sosialnya. Bagaimana integritas GB dan nasabah-nasabahnya dibangun, antara lain diceritakan Yunus (kepada The Times, 31/10/1998) sebagai berikut.
Bangladesh, negara langganan banjir. Di tahun 1998, setengah wilayahnya terkena musibah itu, sebuah bencana terburuk dalam sejarah dan lebih dari 25 juta orang tertimpa bencana. Roda perekonomian lumpuh hampir 3 bulan lamanya; bagi GB itu berarti setengah dari total nasabah tidak lagi mampu membayar kredit. Sebuah mimpi buruk untuk seorang bankir.
Tetapi bukan demikian halnya untuk Yunus. Melawan semua teori dunia perbankan, Yunus mengambil keputusan cepat, berani dan kemudian terbukti sangat cerdas. Kala itu, ia memerintahkan semua cabang GB menunda pembayaran cicilan bagi yang tertimba musibah dan mengubah kantor-kantor GB menjadi posko kemanusian nasabah GB. GB memberikan pertolongan darurat berupa tenda, selimut dan makanan. Sesuai standar dan prosedur perbankan, semua bantuan dicatat, serba rapi, akurat, – singkatnya, akuntabilitas tidak diragukan.
Ketika bencana usai, GB memberikan tagihan agar nasabah membayar semua bantuan yang telah diberikan. Tentu saja protes dan perlawanan datang bertubi, caci maki mengganti pujian. Namun Yunus bersiteguh dan mengatakan, kalau mereka tidak mau mencicil GB tidak akan mampu lagi memberi kredit kepada mereka. Besarnya cicilan minimal 15 Taka, setara dengan dua ribu rupiah per bulan.
Bagi Yunus dan GB, dan juga kemudian bagi nasabah, kemiskinan dan bahkan bencana adalah kesempatan membuktikan integritas moral sosial, sekaligus saat menunjukkan harga diri dan daya hidup guna memutar kembali roda ekonomi. Dengan ala kadar aset yang mereka miliki, mereka bersama membangun kembali sendi-sendi perekonomian masyarakat. Memang demikianlah ciri GB: simpel, aturan-aturan yang masuk akal, organisasi yang punya kepekaan sosial, berani berimajinasi, dan gotong royong. Sebuah gambaran yang sejatinya mirip legenda.
Memang, awal mula berdirinya GB kini menjadi cerita layaknya sebuah legenda. Sebagai dosen muda yang idealis di fakultas ekonomi di Universitas Chittagong, Yunus yang baru mendapat gelar PhD dari Vanderbilt University, AS, mengajar strategi pengembangan ekonomi.
Sementara mengajarkan, ia serentak menyadari: bahwa ada jarak membentang antara dunia abstrak teori ekonomi dengan realitas si miskin yang sekarat tidak jauh dari tembok universitas, di sebuah desa bernama Jobra. Sebuah kesadaran baru muncul dalam diri Yunus, yakni bahwa ada asumsi teoritis yang terlewatkan dalam teori ekonomi. Sebuah asumsi yang terbukti tidak tepat, bahwa si papa miskin umumnya tidak mempunyai ketrampilan.
Di Jobra, Yunus berjumpa dengan seorang ibu pembuat kursi dari bambu yang penghasilannya setara 18 ribu rupiah sehari. Karena tidak punya uang, sang ibu setiap kali harus meminjam uang dari pedagang dan menjual hasil kerjanya kepada si pedagang dengan harga yang ditentukan. Riset sederhana yang dilakukan Yunus terhadap 42 pekerja terampil di desa itu menunjukkan bahwa hanya diperlukan sekitar 250 ribu rupiah untuk membebaskan mereka dari lintah darat. Kesimpulan Yunus sederhana, mereka membutuhkan kredit, tetapi bank mana akan memberikan?Gagal mendapatkan bantuan bank untuk menolong mereka, Yunus meninggalkan buku-buku teks ekonominya dan ia mulai memberikan pinjaman pribadi dan merintis sejarah GB.
Stephen Covey (8th Habit, 2004) menceritakan awal mula GB itu dan serentak memuji model kepemimpinan Yunus sebagai model yang dibutuhkan zaman ini. Covey menyebutnya Yunus sebagai model kepemimpinan bijak yang dimulai dengan menemukan panggilan sejati dalam diri sendiri, konsisten mengembangkannya, dan kemudian menolong orang lain menemukan panggilan sejati mereka sendiri.Pujian Covey barangkali tidak berlebihan tetapi belum lengkap.
Melewati batas-batas kerja profesional sebagai ekonom-bankir yang peduli terhadap si papa miskin istimewanya kaum perempuan, Yunus mengajak para nasabahnya untuk melawan belitan kultural yang memerangkap mereka. Meskipun caranya itu kadang dikritik sebagai model paternarlistik-karismatik, tetapi banyak orang toh kemudian melihatnya sebagai sangat tepat dalam konteks sosial masyarakat
Bangladesh untuk membebaskan kaum perempuan. Proses itu dilakukannya dengan mewajibkan para calon nasabah GB membuat enambelas keputusan prinsip sebelum mereka mendapat kredit. Keenambelas keputusan itu memang berkait dengan upaya mandiri, serentak komunal, melawan kemiskinan ekonomi (seperti membangun kesejahteraan keluarga, memperbaiki dan mengembangkan tempat tinggal; menanam sayuran sepanjang tahun yang cukup untuk dimakan dan dijual; membuat pembibitan tiap tahun; membangun keluarga kecil, meminimalkan belanja dan memperhatikan kesehatan; mendidik anak dan mengusahakan biaya pendidikan; secara kolektif mengusahakan investasi yang lebih besar agar mendapat penghasilan lebih besar)
Tetapi serentak keputusan yang harus diambil nasabah itu melampau batas-batas relevansi ekonomi, karena keputusan itu berbicara tentang kesehatan (membuat dan menggunakan WC di tiap rumah; meminum air yang telah dimasak /dikemas bersih); Bahkan lebih lagi, keputusan itu menukik dalam pada nilai-nilai pembebasan belenggu budaya (tidak meminta atau memberi mahar untuk perkawinan anak mereka termasuk tidak mengawinkan anak di usia muda); serentak pula menginspirasikan pengembangan solidaritas sosial (menegakkan keadilan/melawan mereka yang bertindak tidak adil; siap menolong bila ada desa yang kesulitan; membantu kelompok lain menegakkan disiplin bila mereka lalai; menyelenggarakan kerja bakti di desa dan aktif dalam kegiatan sosial).
Kesemuanya dilakukan dalam prinsip Grameen (disiplin, kesatuan, keberanian, kerja keras)Sekali lagi, semuanya itu dilakukan Yunus dan GB dengan cara yang simpel, kontekstual, lugas, praktis ditampilkan dalam bentuk gambar sehingga mudah dicerna oleh para nasabahnya yang berpendidikan rendah.
Namun idealisme revolusioner dibalik cara-cara yang praktis sederhana itu terbukti telah mengetarkan dunia. Dari Jobra, gagasan GB mendunia, berkembanglah pelbagai pendekatan baru untuk melawan kemiskinan (di antaranya MFI, Micro Finance Institutions) tidak hanya di benua miskin tetapi merambah sampai Eropa dan Amerika. Terinsipirasi antara lain oleh GB, PBB, menetapkan Tahun 2005 sebagai tahun internasional kredit mikro.
Dan di tahun ini, pahlawan kredit mikro itu mendapat penghargaan dunia: Nobel Perdamaian. Kiranya, tidak diperlukan catatan tambahan lain yang menunjukkan bagaimana inspirasionalnya Yunus dan GB untuk konteks kemiskinan di
Indonesia.
Pitoyo Adhi
Kalau ngeBLOG Jangan Emosi, Dong!






Pertama kali saya membaca nama Muhamad Yunus dari program audio Steven Covey, lalu saya cek dan luar biasa memang profilnya. Nah tidak lama kemudian ternyata mendapat Nobel, kami di London juga kaget.
Makasih bung Editor, iya kami di Groningen juga ikut senang, khususnya yang mendalami (mikro) finance. Sekarang Punya Pahlawan.