Tahun Baru 2007 dan Idul Adha, datang serentak. Keduanya bisa dianggap sebagai sebuah kebetulan. Tapi saya memilih tidak.
Sekarang, kehadiran keduanya yang serentak, seolah menjadi undangan untuk memaknainya. Menarik: karena dua peristiwa itu terasa menampilkan dua panggung yang kontras.
Bayangkanlah: Di Seputar Ka’bah jutaan orang baik secara ragawi maupun batiniah memusatkan diri penuh khusyuk, mengungkapkan ketakwaan pada Sang MahaSuci.
Sementara di berbagai sudut dunia yang lain, jutaan orang memeriahkan pergantian dunia dengan petasan, kembang api dan atraksi spektakuler lainnya. Kontras.
Di tahun 1957, Mircea Eliade menulis buku berjudul “The Sacred and The Profane”, sebuah karya seminal yang mencerna secara apik, fenomenologis, budaya masyarakat religius dan non religius.
Bagi kaum religius, “ruang dunia” terbagi dua, the sacred (yang suci) dan the profane (duniawi) masing-masing dicirikan sebagai “kosmis” (keteraturan), dan “chaos” (tak beraturan, penuh ancaman). Itulah sebabnya di semua masyarakat religius selalu ada fenomena tempat-tempat khusus/suci (the sacred), yang biasanya ada di pusat budaya (desa/kota). The sacred itulah pusat dunia (axis mundi) dan kota di bangun di sekeliling the sacred plus tembok benteng pertahanan untuk menghindari ancaman dari the profane, the chaos.
Ada tesis penuh kekawatiran ketika the profane menyeruak masuk dan melibas habis the sacred, seperti orang sekarang melihat Martini Toren (the sacred, jantung kota Groningen) berdiri beku, tidak lagi menjadi pusat budaya yang sudah berpindah ke Grote Mark.
Lalu banyak masyarakat religius cemas melihat kecenderungan ini, seolah kehancuran dunia akan segera tiba karena the sacred mulai ternoda, dan syiar atau misi agama harus digalakkan, penuh cemas dan takut, karena moral merosot dan kiamat. Pesta Tahun Baru harus dicela karena itu adalah penjelmaan dari the profane, dan selayaknya diganti dengan berbagai acara bernuansa religius. Ada orang yang memperlawankan Pesta Tahun baru dengan Natal (sekarang plus Idul Adha) yang adalah penjelmaan dari the Sacred.
Merenungkan Idul Adha dan Tahun Baru, mengingatkan saya kembali pada buku Mircea Eliade dengan cara yang berbeda. Sejarah mengatakan, yang di bawa orang dari the sacred tidak selalu yang suci dan baik, karena dusta dan kejahatan bisa menyelinap di balik jubah. Yang buruk tidak selalu datang dari the profane, karena emphati dan kemanusian adalah rahasia bathin yang tak mudah terselami.
Maka kita tidak harus membuat pilihan “either the sacred or the profane, either the cosmic or the chaos”. Karena dalam bathin yang jernih “we would be able to find the sacred within the profane”, dan karenanya “the sacred is the profane”, vice versa. Lalu, misi religiositas tak harus dengan warna cemas, dan yang profane bisa juga membawa pesan profetik, sementara keduanya memainkan sebuah simfoni kreatif: “how to bring the sacred into the profane and , bring the profane into the sacred, but at the same time they are still the sacred and the profane”. Dengan begitu Idul Adha dan Pesta Tahun Baru, keduanya, bisa saling diperkaya. Mudah-mudahan.
Selamat Idul Adha. Selamat Tahun Baru.
Pitoyo Adhi
Kalau ngeBLOG Jangan Emosi, Dong!





