Anda pernah menjenguk milis yang mengklaim sebagai milis antar agama? Saya pernah, dan lalu malas menjenguknya lagi. Karena yang lebih sering terjadi adalah perang kata, jargon bunuh-bunuhan, dan saling mengkafirkan. Menurut saya ini perkara sensitivitas yang tidak bekerja, dan kesuper-begoan dalam memahami zona percakapan.
Maksud saya begini:
Ketika saya menyampaikan iman/keyakinan agama kepada orang lain, di situ zonanya adalah “sharing” pengalaman/kepercayaan, bukan argumen karena masing-masing orang mempunyai keyakinannya sendiri, pengalamannya sendiri. Mendalilkan sharingnya berdasarkan argumen-teks sucinya masing-masing untuk klarifikasi tentu boleh. Dalil teks suci tentu saja absah, dan rasional dalam arti membantu memberi penjelasan. Tetapi mengganggap sharing sebagai ajang diskusi argumentatif lebih sering membuat mereka terjebak dalam argumen sirkuler. Artinya ayat satu dibuktikan, dijelaskan oleh ayat lain begitu seterusnya. Dan argumen sirkuler secara logis bukanlah metode pembuktian argumentatif.
Zona sharing yang dianggap sebagai zona diskusi argumentatif lintas agama pasti langsung menemui jalan buntu, artinya menyerang atau membela, mebunuh or dibunuh. Maka, misalnya, menurut saya meruntuhkan “kebenaran” Trinitas dengan dalil Al Qur’an, akan sama buntunya dengan mempertahankan Trinitas dengan ayat-ayat Injil atau ajaran Gereja di hadapan orang yang tidak mengimaninya. (vice versa: berlaku juga untuk topik apakah Nabi Muhammad benar seorang nabi, atau Budha mencapai Nirvana sebelum kiamat datang).
Bahkan mungkin konyol, karena dua belah pihak akan terjebak dalam argumen sirkuler. Saya selalu tertawa kecut kalau menjenguk web, milis, baca buku or diskusi semacam itu. Baik dari si pembela Trinitas maupun si penyerang. Kedua belah pihak sama-sama bodoh.
Jadi dalam zona semacam itu yang bisa dilakukan adalah sharing, bukan diskusi argumentatif.
Apakah lalu suatu zona diskusi argumentatif lintas agama menjadi tidak mungkin?
Sangat mungkin: yaitu ketika setiap peserta mempunya pertanyaan dasar yang sama yaitu “Bagaimana kita dapat memberi penafsiran yang paling tepat atas teks suci” menghadapi situasi konkret tertentu dan menghadapinya secara bersama: misalnya kemiskinan dan pemiskinan, ketidakadilan, penindasan, atau bagaimana menata masyarakat yang egaliter? Lalu apakah sumbangan masing-masing penafsiran itu? Bagaimana kita dapat saling mengkritisi penafsiran (yang nisbi itu) dan lalu menciptakan simfoni karya mensejahterakan masyarakat yang saling melengkapi?
Dan, semuanya perlu didasarkan pada semangat yang secara apik telah dirumuskan oleh Syafii Maarif tentang pluralisme (29/12) “Paham pluralisme memberi peluang kepada siapa saja untuk menyakini agamanya sebagai mengandung kebenaran mutlak, tetapi hak serupa juga harus diberikan kepada penganut agama lain untuk memegang prinsip yang sama” Semangat dasar ini harus melandasi dan mendahului semua bentuk prosedur demokrasi.
Artinya: kalau saya jadi warga Amerika atau Belanda atau Itali, “kesepakatan dasar” bahwa negara bersikap netral terhadap semua agama/keyakinan tidak boleh dan tidak dapat diubah dengan prosedur demokrasi mayoritas-minoritas. Demi apa? Pertama, demi prinsip ini: “nilai/kebenaran” (dasar, yaitu kesamaan hak, tidak boleh ada warga negara dan keyakinan kelas dua) tidak bisa digugurkan karena mayoritas menghendaki lain. Kedua, demi semangat pluralisme yang dirumuskan oleh Safii Maarif, khususnya perlindungan hak minoritas.
Saya sendiri, ingin berada dalam barisan kaum idealis yang memperjuangkan hak minoritas ini (entah kaum Muslim di India, Eropa dan Amerika, entah Kristen dan Kong Hu Cu di Indonesia, entah suku Kurdi di Irak, atau kaum perempuan dalam ketertindasan masyarakat patriarkis).
Tuntunan suci mengatakan : ‘untuk kamu agamamu, dan bagiku agamaku’. Seratus persen benar. Tetapi di pihak siapa ‘aku’ bertindak ketika ‘kamu’ ditindas? Penindas atau si tertindas?
Pitoyo Adhi
Kalau ngeBLOG Jangan Emosi, Dong!






Ah masak tuntunan ini suci dan benar?
Tapi kok prakteknya lain ya?
Hmm…menarik. Aku baru saja membaca kembali buku Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 6 november 1899.Hampir 108 tahun yang lalu. Dan menemukan ini. Keprihatinan seorang perempuan muda, Kartini -yang mungkin tidak menjadi idola bagi banyak perempuan di negerinya sendiri-. Ia menulis cermin dari keputusasaannya dalam melihat realitas hidup keagamaan
Ini kutipan surat Kartini voor Stella :
Agama dimaksudkan sebagai rahmat bagi semua umat manusia,
untuk bisa menjadi tali penghubung antara semua ciptaanNya.
Kita semua bersaudara bukan karena satu keturunan
tapi karena satu Tuhan yang berkuasa di atas sana.
Oh, Tuhan kadang aku berpikir bahwa agama lebih baik tidak ada saja.
Karena justru agamalah penyebab perselisihan, perpecahan
dan pertumpahan darah dan bukan menjadi tali pemersatu umat manusia.
Saudara kandung saling berselisih hanya karena berlainan keyakinan.
Perbedaan antara Gereja juga mengakibatkan dinding pemisah bagi dua hati yang berkasih-kasihan.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apakah agama merupakan sebuah praktek kalau prakteknya malah seperti ini?
Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa,
namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama?
@ dewo prakteknya lain: hehe kayak panggang jauh dari api ya
@ anna welah? masalah kayak itu sudah lama banget ya, gak maju2 kita
setuju sudut pandang anda bung
amin!
entar dulu…kartini dalam beberapa file-nya yang terakhir, dia memutuskan untuk tidak “sekuler” atau “liberalis” dan lain sebagainya. saya lupa di mana saya baca, nanti ke sini lagi deh
hehe, cari dimana? cepetan balik!
itu kartini dalam pandangan orang HT dan DDII kalo gak salah. cari di swaramuslim, webnya hidayatullah atau eramuslim pasti ada deh ..
iya yang mau kasih info malah ngilang gak balik-balik
milis islam yg anggotanya dari banyak kalangan dan bisa diskusi asik, menurut aku, wanita-muslimah@yahoogroups.com
thx infonya. ikutan milis itu juga?
menurut saya bukan agama yang menimbulkan banyak masalah,tapi manusia yang gak paham agama dan menuruti hawa nafsunya yang banyak menimbulkan masalah. baru ngerti agama dikiiiit aja udah ngrasa paling benar dan nyalahin orang lain. namun memang begitu kehendak Alloh untuk menguji dan menyeleksi mana hambanya yang paling sabar dan bertaqwa. itu menurut saya
Ya selama ini kita salah dalam menjalankan agama! Lihat kasus mr abu dujana yang membajak islam sebagai jalan untuk melakukan hal yang buruk. Kok mala di bela benar harus ada praduga tak bersalah. Tp khan kita heran kok yangm membela tim pembela islam. Sory ya jika salah coment
Terkadang pikiran saya tidak terfocus karena terlalu banyak yg saya tidak setuju tapi tidak bisa mengungkapkannya dgn tulisan.
Kutipan
——–
Maka, misalnya, menurut saya meruntuhkan “kebenaran” Trinitas dengan dalil Al Qur’an, akan sama buntunya dengan mempertahankan Trinitas dengan ayat-ayat Injil atau ajaran Gereja di hadapan orang yang tidak mengimaninya. (vice versa: berlaku juga untuk topik apakah Nabi Muhammad benar seorang nabi, atau Budha mencapai Nirvana sebelum kiamat datang).
Tanggapan
————–
Saya jadi bertanya tanya kalo yg ditulis diatas benar. Jadi bgmn kah suatu paham ajaran di turunkan jika ajaran itu tidak boleh diajarkan dari sumber kitab sucinya?
Sebagai contoh, bgmn sdr bisa mengajarkan Trinitas tapi tidak boleh diambil dari Kitab suci orang Kristen?
Di lain pihak, jika orang kristen menjelaskan Trinitas dgn menggunakan ayat ayat dr Kitab Suci-nya, lalu orang beramai ramai berkata in circular argument.
Jadi susah dong kalo begitu. Dgn kata lain kita semua orang bisa bisa jadi bodoh. Karena pengetahuan yg kita ketahui apa pun bentuknya tidak boleh dijelaskan dari sumber pengetahuan (revealed source)nya.
Mas Pitoyo, baru memberikan opininya (thank you utk itu) tapi itu kan sumbernya dari Mas Pitoyo. Karena Mas Pitoyo yg memberikan opini yg tertulis, maka saya asumsikan bahwa mas pasti mempercayai opini ini sebagai opini yg benar. Tapi kan itu menurut mas Pitoyo. Bgmn saya tau opini ini benar? Karena mas Pitoyo yg mengatakan itu benar? Lho, kok jadi circular argument lagi sih.
Lalu bgmn mengetahui pernyataan mas Pitoyo itu benar? Wah garuk garuk kepala saya jadinya. Bukan kah kitab suci orang Kristen, Islam, Budha tidak boleh memberikan penjelasan ajaran dia dan mengclaim sebagai suatu kebenaran? Karena kan jika mereka mereka ini mengclaim ajarannya paling benar lalu akan dituduh dgn circular argument?
Saya sendiri tidak tau jawabannya. Tapi percaya tidak bahwa saya benar benar tidak tau? Saya berkata “saya tidak tau” itu benar benar tidak tau. Bgmn sdr sdr bisa membuktikan bahwa saya benar benar tidak tau jawabannya? Bisakah sdr memberikan jawaban bahwa saya benar benar tidak tau? Kan saya tidak boleh mengclaim saya benar benar tidak tau dari sumbernya saya sendiri. Nantikan dibilang circular argument.
Saya tidak tau – kalimat pernyataan yg saya bilang benar.
Siapay yg mengatakannya? Saya.
Maka ini tidak benar karena sumbernya adalah saya.
Circular argument.
Mungkin saya juga salah dalam hal ini. Tapi jika saya salah tolong diperbaiki.
Menurut saya (circular argument). Segala kebenaran yg mutlak itu hanya ada dari Tuhan saja. Dgn kata lain, tanpa di reveal (diwahyukan) maka kebenaran itu tidak mungkin bisa diketahui dan dimengerti. Krn kita tau Tuhan itu ada maka circular argument bagi Tuhan adalah hal yg ok ok aja.
Why? Krn dia adalah Sumber dari segala sesuatu. Maksudnya tidak ada satu pun kebenaran yg mutlak diluar dia.
2 + 2 = 4 itu adalah kebenaran yg dibuat dari matematika. Dan kebenaran ini hanya ada jika ada kebenaran bahasa yg berasal dari Tuhan. Tanpa bahasa tidak akan mungkin kita bisa membunyikan 2 sebagai dua atau two atau loro dstnya.
Tapi tetap ada kendalanya. Karena manusia adalah ciptaan dan tidak sempurna dan di dunia ini bukan hanya ada Tuhan saja tapi juga setan, maka kelemahan kita sebagai manusia yg tidak sempurna sering mengakibatkan kita menyebarkan kebanaran setan sebagai kebenaran yg kita anggap dari Tuhan. Nah ini lah bahaya nya. Bahkan kita berani sampai mati utk membela kebenaran setan ini.
Jadi meskipun utk mengetahui kebenaran yg mutlak itu tidak mudah. Tetap kita harus mencarinya dgn open mind jgn close mind.
Untungnya saat kita diciptakan Tuhan, tentunya sebagian dari diri kita itu kecipratan sifat sifat Tuhan. Misalnya kita bisa berpikir, berkemauan, mencintai, membenci, marah yg semuanya ada dalam diri Tuhan. Memang benar sifat sifat yg kita miliki itu derajatnya jauh lebih rendah dari kesempurnaan yg dimiliki Tuhan.
Nah dgn sifat yg ter-distorsi (rusak) ini kita masih bisa melihat samar samar kebenaran Tuhan.
Kembali lagi ke kutipan di atas
” Maka, misalnya, menurut saya meruntuhkan “kebenaran” Trinitas dengan dalil Al Qur’an, akan sama buntunya dengan mempertahankan Trinitas dengan ayat-ayat Injil atau ajaran Gereja di hadapan orang yang tidak mengimaninya. (vice versa: berlaku juga untuk topik apakah Nabi Muhammad benar seorang nabi, atau Budha mencapai Nirvana sebelum kiamat datang).”
Pernyataan di atas saya kira half truth. Krn disatu pihak secara logika itu benar tetapi dilain pihak konsep ini menimbulkan suatu effek baru yi manusia jadi tidak bisa mengetahui sesuatu itu benar atau tidak sama sekali.
Padahal dalam kenyataanya kita bisa mengetahui sesuatu itu benar.
Pada dasarnya, topik yg diperbincangkan ini dikenal dgn nama epistemology yg artinya how do you know that you know?
Saat saya masih kecil, dan mulai bertanya tanya kepada ibu saya saya tidak pernah meragukan jawaban ibu saya itu salah. Tapi saat saya mulai besar dan mulai menyadari bahwa ibu saya itu tidak sempurna maka jawaban dari ibu saya tidak mentah mentah saya terima sebagai hal yg benar.
Di sini terlihat bahwa tahap pertama utk mengetahui kebenaran adalah dari sumber otoritas yg kita percayai BENAR. Kebenaran seperti ini disebut kebenaran otoritas.
Waktu sekolah, guru SD saya ajarin matematika dan saya tidak berargument tapi terima aja. Saya hanya bertanya jika saya tidak mengerti dan saya akan membantah guru matematika saya kalo dia sendiri melanggar rumus yg dia ajarkan ke saya.
Kebenaran dari Allah adalah kebenaran otoritas. Dimana jika Tuhan itu BENAR maka semua yg dia sampaikan harusnya juga BENAR dan wajib utk dipercayai. Jika kita tidak mempercayai malah bisa jadi tidak logical.
Kebenaran lainnya adalah kebenaran samar samar dari hati nurani. Ini kebenaran yg sering tidak benar. Tapi contoh nyatanya adalah bgmn kamu benar benar tau bahwa kamu jatuh cinta dgn pacar mu? Bisa kah kamu logikakan perasaan mu itu?
Kebenaran lainnya yg juga bisa salah adalah kebenaran experiment. Nah ini yg dipakai ilmuwan utk menduduk penemuannya. Tapi yg ini tidak mutlak. Terlalu sering ilmuwan salah bahkan gereja juga sering ketipu dgn ilmuwann ini. Contoh nya jaman galileo dimana ilmuwan berkata bumi adalah pusatnya. Dan gereja katolik (sorry -tidak bermaksud menghina) tertipu dgn ilmuwan itu. Tapi kenyataannya salah.
Teori asal muasal universe (alam semesta). Bukankah dari dari teori yg mengatakan dunia itu dari big bang dan akan
berlangsung kekal. Tapi sekarang udah adah teori baru yi
teori termodinamika yg mengatakan dunia ini ada asal nya dan akan berakhir nantinya.
Jadi kebenaran itu ada hanya YG MUTLAK ITU SUSAH.
Wah, saya udah ngomong kebanyakan. Pembaca udah kebelinger kali ya dgn tulisan yg tidak apik ini. Saya tutupi aja dgn mengkomentari tulisan terakhir dari mas Pitoyo.
Kutipan:
“Tuntunan suci mengatakan : ‘untuk kamu agamamu, dan bagiku agamaku’. Seratus persen benar. Tetapi di pihak siapa ‘aku’ bertindak ketika ‘kamu’ ditindas? Penindas atau si tertindas?”
Tanggapan:
————–
Sementara kutipan diatas itu memang membuat penganut antar agama jadi tidak perang dan berantem tetapi bahaya yg terkandung didalamnya adalah menutupi keinginan orang mencari kebenaran yg MUTLAK itu.
1. Mas Pitoyo mungkin tau surah dari Al Quran yg menyebutkan “Untuk kamu agamamu, dan bagiku agamaku”.
Kalimat ini dikemukankan olah Nabi Muhammad SAW saat di awal awal dia mendirikan Islam. Saat itu Nabi masih belum memiliki banyak penganut dgn kata lain Islam adalah minoritas.
Tetapi ada ayat di Al Quran yg isinya sangat berlawanan dgn yg mas Pitoyo kutip itu. Saat itu Nabi telah memiliki demikian banyak pengikut dan sangat berkuasa dgn pasukannya. Perintahnya (maaf ya sdr pembaca) adalah membunuh mereka yg tidak mau masuk islam atau setidaknya membuat mereka tunduk diatas perintah Islam dan mereka harus membayar pajak ke Islam.
Tentunya mas Pitoyo akan terkejut membaca ini. Jika saya salah, mohon dimaafkan. Tapi sebelum saya dipersalahkan tolong dicek kebenarannya di Al Quran. Caranya cek kapan dan bgmn kondisi Nabi saat Allah menurutkan ayat agamu,agamu dan agama ku bagi ku. Lalu bandingkan dgn kondisi saat ayat yg keras diturunkan.
Jika ingin mengetahui ayatnya silahkan email ke saya:
ackld2007@yahoo.com
Lalu bukankah semua agama itu berasal dari Tuhan? Tunggu dulu. Jika semua agama berasal dari Tuhan dan Tuhan di alam semesta ini hanya SATU. Bukankah agak ganjil jika TUHAN YG SATU itu berkata didalam ajaran ISLAM “Yesus itu BUKA”N Tuhan” tapi TUHAN YG SATU di Kitab Suci Kristen berkata “Yesus itu Tuhan”. Atau, yg di korbankan adalah Ismail – Quran tapi di Alkitab (orang Kristen & Judaism) yg dikorbankan ISHAK. Dan Tuhan yg SATU itu berkata diajaran BUDHA COSMOS adalah Allahnya dan di HINDU manusia akan bereinkarnasi.
Wah, kalo semua ajaran ini dari satu SUMBER, gelo kayaknya sih. Either Tuhan NYA yg lagi mabok atau memang terlalu banyak agama gadungan yg mengajarkan kebaikan lalu dianggap dari Tuhan.
Jadi bgmn nih? Ya.. menurut saya (bisa salah lho). Tujuan agama itu apa dulu? Apakah tujuan agama itu hanya sebatas di dunia atau sampai ke akhirat? Lalu apakah tujuan itu bisa tercapai? Jika tidak tercapai ya lebih baik tidak ada agama toh tidak ada gunanya.
Setuju tidak kalo tujuan agama itu ialah agar kita umat manusia yg diciptakan Tuhan suatu saat bisa kembali ke tangan Tuhan dan menikmati kehidupan di hadapan DIA.
Jika setuju, maka jika agama tidak bisa membawa kita ke PENCIPTAnya suatu saat nanti maka tidak ada gunanya agama itu.
Budha – reinkarnasi
Islam – mudah-mudahan
Hindu-reinkarnasi
Kristen- pasti ke PENCIPTAnya (sorga) karena pertolongan TUHAN aja. Bukan karena umat kristen itu baik atau lebih baik dari orang lain tapi karena TUHAN itu baik. Tapi kebaikan itu hanya bisa dialami bagi yg mau percaya dan terima DIA saja.
Saya rasa cukup sampai disini dulu ya.. Email saya jika ingin tanya. He hehe.. saya tidak bisa mengungkapkan sesuatu dgn jelas.. Mohon dimaafkan lahir dan batin.
AKSI DAMAI SEJUTA UMMAT DIGELAR LAGI..!!!
Assalamu Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh
Kami mengajak Kaum Muslimin & Muslimat untuk ikut dalam
AKSI DAMAI ke ISTANA NEGARA
Pada Hari: Senin, 4 Agustus 2008, Pukul: 08.00 WIB s/d selesai.
Berkumpul di depan Istana Negara Jakarta.
Dengan Tujuan :
“BUBARKAN AHMADIYAH….!!!” Dengan KEPPRES.
GERAKAN CINTA NABI SAW
Sekretariat: Jl.Pedat I No.40 Otista, Jakarta.
Himbauan :
-Jangan Berbuat Anarkis.
-Gunakan Busana Muslim.
Catatan : Rencana Aksi Damai ini sudah di-informasikan kepada pihak yang berwajib. Harap yang mengakses pengumuman ini, membantu untuk menyebarluaskan kepada saudara kita melalui berbagai media/ sarana demi kelancaran Aksi Damai ini.
Info selengkapnya, klik: alfaizin99.blogspot.com