Agak sedikit menyesal juga waktu akhirnya Nino memejeng sepeda saya di blog wira-wirinya. Seorang teman yang melihat sepeda saya komentar jenaka, “Dhi, tahu gak, sepeda rektor lebih jelek dari punya lu!” Yang dia maksud rektor adalah Prof. Frans Zwarts, di University of Groningen atau Rijksuniversiteit Groningen, atawa Universitas Negeri Groningen. Untuk mengobati penyesalan saya, saya cerita soal rektor dan sepeda deh.
Selain punya pemenang nobel (Frits Zernike, 1953), ada seabrek prestasi lain: punya komputer tercepat kedua di Eropa. RuG adalah Univesitas Belanda pertama yang menerima mahasiswa perempuan, mempunyai dosen perempuan pertama, astronot Belanda pertama, dan Presiden pertama dari Bank Eropa. Maklumlah, RuG sudah berdiri sejak 1641. Di kota kecil di Belanda Utara, Groningen, berpenduduk sekitar 180ribuan, 2,5 jam naik kereta dari Amsterdam.
Prof. Dr. R.M. Padmosantjojo, yang sukses pertama kali memisahkan kembar siam di Indo(1987) juga alumni RuG. Sekarang sekitar 100an mahasiswa Indonesia belajar di RuG. Bukan sekarang saya mau cerita tentang RuG. Tapi soal sepeda rektor dan komen sohib saya itu. Komen teman itu benar juga, karena soal harganya, sepeda rektor tak sampai sepertiga harga sepeda saya, kalau sekarang sama-sama dijual. Meskipun saya bisa berkelit dengan dua alasan. Pertama, coba cek dong berapa pajak yang dibayar rektor, tetap dia lebih makmur. Kedua, sepeda saya itu tampangnya saja bagus, tapi kalau jalan kayak goyang inul ngebor karena roda belakangnya tidak simetris.
Tapi tentu itu cuma alasan. Yang kami kagum: soal kesederhanaan dan kebiasaan bersepeda. Semua profesor,dosen dan karyawan, selalu ke kampus naik sepeda, bareng-bareng mahasiswa. Kekecualian tentu ada, mereka yang rumahnya sangat jauh dari kampus. Dan jangan bayangkan sepedanya bagus-bagus. Umumnya kumel dan yang murah-murah saja. Kadang di cat warna-warni. Soalnya, punya sepeda bagus di Groningen, resikonya dicuri para pemabuk.
Teman saya itu cerita lagi. Pernah jam 2 pagi, rumahnya digedor orang. Seorang junkie, menawarkan sebuah sepeda bagus, seharga 5 euro, atau setara 60 ribu, cukup untuk dua botol bir. Harga dipasaran mungkin sekitar 75euroan. Tentu teman saya menolak. Karena urusan dengan polisi, kalau ketahuan bisa berabe, masuk bui. Cilakanya, besoknya ban sepeda bututnya, pecah. Pergi ke bengkel, ongkos tambalnya 7 euro!
Teman lain cerita. Ada junkies yang punya bisnis mencuri sepeda. Kalau butuh sepeda, tinggal tilpon saja dia, sebaiknya tengah malam. Sebutkan sepesifikasinya. Nanti dia cari-cari di tempat parkir tengah kota, sesuai kebutuhan. Satu atau dua jam lagi dia akan datang dengan sepeda persis yang Anda inginkan. Tetapi, kalau tidak mau urusan dengan polisi sebaiknya jangan coba-coba. Lha, kalau lampu sepeda tidak nyala saja, dendanya 17 euro untuk satu lampu (200ribuan rupiah). Maka kalau tidak ingin kena sial, sepeda harus punya gembok dengan rantai yang besar. Umumnya, orang punya dua kunci sepeda. Satu kunci biasa di roda belakang. Satu lagi kunci berbentuk rantai untuk mengikat sepeda di tiang atau di parkiran sepeda.
Ngomong-ngomong lagi soal rektor dan sepeda. Gimana gambaran rektor-rektor di Indonesia? Or bapak-bapak pejabat? Di Belanda anggota DPR juga naik sepeda kok kalau ke kantor.
Kang Adhi
PS: Tulisan Ini didedikasikan untuk kawan-kawan di wira-wiri naik sepeda
Kalau ngeBLOG Jangan Emosi, Dong!






Kayaknya kalo di indonesia ga mungkin banget….boro2 angota DPR ato pejabat suruh naek sepeda lha wong anak sekolah sekarang aja sdh pake motor dan mobil ..pake sepeda CAPEK DEEEHHHH paling sprti itu jawabanya…lagi pula di jakarta tercinta ini sudah tidak ada lagi ruang buat sepeda.lha buktinya trotoar pedistarian, jembatan penyebrangan orang aja buat lewat motor…..
Mungkin untuk mewujudkan sprt itu bisa dimulai dari diri kita kali ya…..
ayo dukung habis bung laexs dan wira-wirinya!
Pak Usman (Usman Chatib Warsa)… mana mau naik sepeda? wong jalanan di Depok itu penuh asep knalpot… Kecuali Pak Nur (Nur Mahmudi Ismail), dengan tangan besi, memerintahkan semua manusia yang akan masuk ke Depok untuk naik sepeda. Tapi yaaa… wong Pak Nur nya orang baik, ndak suka main tangan besi… yaa Pak Rektor pasti ndak mau naik sepeda.
Kalo Kang Adhi tanya ke Pak Usman, beliau pasti berkata dengan logat jakartanya, “eehh Pak Nur nya aje ga mao naek sepeda… masak gue disuruh naek sepeda… enak ajee lo!”
Hehehe…
kekekekek! haha
Saya terkesan dengan kultur yang mengakar, yakni kesederhanaan, padahal kompeni londo itu kan kaya.
Di indo Kang, … masa masih nanya sih.
Begitu dapat jabatan, boleh jadi yang diincar kekayaan untuk ganti ongkos menuju jabatannya, termasuk dpr dan dprd.
Mungkin para petinggi kita itu penganut “biar miskin asal sombong”, buktinya hobi utang tapi mobilnya mewah dan gak cukup satu.
Jadi, gak bakalan deh rektor, pejabat, dpr indo naik sepeda untuk ngantor …
Usul … gimana kalo junkies dibuat postingan tersendiri ?
Asyik tuh, kayaknya banyak lika-likunya …
Iya, ya pertanyaan tentang Indo naif juga ya. Kalo posting soal junkies wah, mesti cari info lebih nih, alias survey hehe..Ya semoga deh
Saya dulu kuliah naek sepeda mustang, yang lain pilih jalan kaki atau naik motor. Alasan utamanya bukan karena hal lain karena gak bisa beli motor aja. Yang terpikir kenapa tidak mau naik sepeda adalah gengsi (identik dengan kemlaratan indonesia), bikin badan bauk… kasihan orang lain yg turut menikmati aroma keringat yg naik sepeda.
Kang Adi coba nanti kalau pulang terus coba jalan2 naik speda butut, pasti hal itu unik. Kalau di jogya dalam kampus UGM masih ada kok mahasiswa naik speda, dosen atau rektor ada juga yg naik sepeda… tapi dulu… atau sewaktu pak rektor masih anak2.
Yap iklim tropis di Indo mungkin gak sangat mendukung, tapi paling gak semangatnya. Ha, semoga pak rektor baca!
Di Banjarmasin, waktu awal-awal Bapak Walikota terpilih menjabat, ada kebijakan bersepeda ria untuk para pejabat Pemko setiap hari Jum’at pagi. Lumayan bisa ngakak ngeliatin bapak-bapak pejabat kerepotan menggotong sepeda dari atas mobil-mobil mewah mereka, lalu ngos-ngosan genjot.
Sayang sekarang program itu entah bagaimana kabarnya, ndak kedengaran lagi buriniknya… Sudah dilupakan kali, sama bapak-bapak yang terhormat itu…
salut. gak usahlah mikirin ato lihat orang lain.. semuanya dari diri kita sendiri, tul gak mas..
lagian nyepeda ke kantor ato kuliah itu juga sehat.. itung itung girit sambil olahraga..
sangat sehat, dan satu lagi: bisa milih variasi jalan dan pemandangan yang gak bisa dilakukan kalau kita naik mobil atau bis.
Disini ada pak Andi Malarangeng dan pak Sarwono juga gowes sepeda walau ga tiap hari…begitu juga gue
salam buat mereka berdua ya!
Mari berantas kendaraan bermotor !!! -disambit yang punya mobil ma motor-
eh tapi masa saya ke kantor -dari bogor ke jkt- harus spedaan..ekekekeke
tapi ada juga lho yang rumahnya di cibubur. naik mobil sampai cawang terus naik sepeda sampai kantornya. ekekekeke
pokok’e genjot
saya mendukung gerakan bersepeda. ayo kawan, kita bersepeda. saya sudah melakukannya dan saya merasakan banyak manfaat. jadi ga ngantuk saat kuliah,pokoknya bermanfaat banget deh…! tapi kadang saya merasa takut karena harus bersepeda sendirian di jalanan yang cukup rame(margonda depok). dan sering malu karena dipandang orang dengan muka2 aneh mereka. saya juga kadang khawatir kalo bersepeda kurang baik untuk wanita, untuk kesehatan rahim. ada yang punya artikel tentang ini??? tolomng bantu saya ya.. terimakasih
Kita mulai aja dari diri kita dan lingkungan. kalau konsisten lamalama orang akan ngikuti kita
setuju…budayakan ngegenjot sepeda…itung2 hemat bbm sambil olahraga…
tariik..maang..
sepeda untuk mengenang leluhur …. hidup pith onthel
he.he. sebenarnya ini komen ga penting : RuG itu berdiri 1614 atau 1641 ya? saya baca disini kok 1614 ya? *salam kenal*
wah yang mana yang benar ya?
kalau di bandung situasinya gimana?????????//
Dulu ane kerja dari Pndk ungu bekasi ke semper priok ngonthel ga malu tuh.. tambah sehat, tapi sekarang dari cakung ke Kyai Caringin /jemb Tomang mikir juga tuh….makanya ane mo bernostalgia end olah raga mo gabung sama COBA , Bravo onthel……