Sekali lagi, saya memberi apresiasi untuk blog Mas Akhmad Tajib. Bukan karena tampil dengan theme yang berbeda(19/01). (Hikss, gambar pohonnya hilang!) Tetapi karena taglinenya berubah. Semula hanya bertulis. “Membuat blog karena ingin belajar menulis”.
Sekarang tertulis, “Membuat blog karena ingin belajar menulis dan belajar tentang kearifan (lokal)” Yang perlu diapresiasi adalah dua kata terakhir: kearifan lokal. Mengapa perlu diapresiasi?
Ada dua alasan. Keduanya sudah digambarkan secara karikatural lewat dua posting, masing-masing dari Arif dan Mr. Tajib sendiri. Saya menggarisbawahi saja.
Arif mensharingkan pengalaman pribadi: seorang petani menawarkan anak gadisnya, 14 tahun sebagai ganti kembalian membeli kopi. Saya baca dengan trenyuh tapi juga marah. Itu peristiwa jadul (jaman dulu) kata Arif. Tetapi menurut saya itu sangat aktual. Terkait masalah Trafficking in persons.
Membaca tulisan Arif itu, perasaan mual di perut dan gusar mendalam menguasai benak saya. Ini masalah teramat serius untuk dilewatkan. Supaya dapat membantu memahami betapa seriusnya masalah ini silakan lihat di sini (Sebuah situs yang memerangi kejahatan ini. Foto di atas saya ambil dari situs tersebut). Atau cobalah sekali-sekali googling “trafficking in persons”. Trafficking in persons adalah sebuah industri illegal berskala dunia yang berwajah amat sangat mengerikan.
Tidak ada yang patut disalahkan dalam diri si petani. Karena ia adalah gambar karikatural proses pemiskinan masif pedesaan. Sesudah perilaku rakus tuan besar modal menghancurkan sendi-sendi ekonomi pedesaan, si petani berada di tepi jurang kemiskinan akut. Dan celaka, di bawah jurang sana, dengan mulut yang tak kalah rakusnya, industri trafficking siap menerkam anak-anak dalam industri sex berskala global!
Bagaimana melawan kejahatan ini? Salah satu caranya adalah menguatkan kembali berbagai kearifan lokal (local wisdoms). Yaitu tatacara, kebijaksanaan, cara pandang masyarakat lokal yang sudah teruji dan mampu mengatasi persoalan hidup mereka. Secara komunal. Secara bersama. Apa itu?
Saya berharap dalam postingan-postingan berikut Mr. Tajib dapat membantu kita. Yakni memperkenalkan kita tentang kekayaan kearifan lokal, dalam berbagai desa/budaya di Tanah air.
Celakanya, kearifan lokal ini juga terancam tidak hanya oleh tuan besar modal, tetapi juga saudagar agama (cat: agama apa saja!). Yakni terutama mereka yang mewacanakan klaim kebenaran absolut dan hegemonistik. Klaim kebenaran macam ini merusak sendi-sendi kehidupan lokal-komunal, ekosistem plural yang saling bergantung. Inilah salah satu sumbangan dari postingan Mr. Tajib kamis kemarin.
Mengapa menjadi ancaman? Karena klaim kebenaran absolut, selalu berarti sebuah semangat perang. Semangat kalah-menang. Dan ini merupakan musuh dari kearifan lokal. Kearifan lokal berusaha mencari sintesa cara hidup dimana berbagai tafsir kebenaran dapat saling memperkaya. Tidak semata-mata toleransi semu yang cuek satu terhadap yang lain.
Tesis saya sebenarnya sederhana saja: tuan besar modal telah membawa kemiskinan masif dunia pedesaan, dan saudagar agama yang mengusung wacana kebenaran absolut telah memancing di air keruh. Kemiskinan dan kebodohan, telah menjadi mesiu konflik.
Solusinya antara lain: kearifan lokal-komunal, ekosistem plural perlu diberdayakan kembali.
Selamat berakhir pekan.
Kang Adhi
Baca Posting Berikut: PARTAI BINATANG
Kalau ngeBLOG Jangan Emosi, Dong!






Lebih celaka lagi, Trafficking in persons makin menggandakan tentakel bak gurita, tidak lagi menyelinap di celah-celah kemiskinan dan kebodohan, tetapi bergerak masif menjemput bola di belantara kemiskinan (dan kebodohan).
Gambaran ini tercermin dengan dipersembahkannya si gadis ingusan oleh sang ayah.
Masalahnya Kang, sementara kemiskinan dan kebodohan diangkat setengah hati (mungkin bahkan pura-pura), sodagar klaim absolut seolah mendapatkan jalan legalitas.
Btw, sampeyan koq yo tego ngasih PR kompleks di akhir pekan.
Dan saya koq yo mau-maunya
terhasutikutan mikir postingan ini. *halah*(cat. tesisnya itu yah, final ?)
mikir tapi gak usah sampe stressss. stay cool man! soal tesis: namanya juga tesis bisa dibantah or disetujui. Namanya juga tesis, tentu bisa dibantah dengan pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan: data. Ada yang mau meruntuhkan tesis itu? Lha monggo dibuktikan dengan kaidah akademis, haha
Duluuu kehadiran agama memang menggeser kearifan lokal. Sekarang dalam era globalisasi, budaya barat yang lebih aksesibel juga mengalterasi kearifan lokal. Saya jadi bertanya, apakah kita ini benar-benar punya kearifan lokal?
Kekuasaan tuan besar modal itu khan contoh konkret dari hegemoni dunia barat toh. Sementara kehadiran saudagar agama tetap dan makin aktual sekarang. Kearifan lokal itu ada. Banyak gerakan masyarakat mencoba memberdayakan kembali. Mereka perlu disupport
[...] kasih review untuk tulisan [...]
Alhamdulillah, dengan review ini, tulisan saya jadi lebih kumplit. Semoga Mr Tajib, menambah kumplit tulidannya dengan perbandingan terhadap kearifan lokal.
Makasih Kang.
Selamat akhir pekan juga.
sami-sami kisanak.
kdg2 aku kepengen ngeliat praktek langsung bersinerginya antara agama (yang baru masuk) dan kearifan lokal kayak waktu jamannya sunan kalijaga dulu…
tapi kalo itu kupraktekin sekarang, pasti banyak yang bakal berteriak, “bid’ah! bid’ah!”
soal yang teriak-teriak itu khan masalahnya dikuping kita aja. mau diperdaya atau tidak. Jangan cuma ngeliat ah! Banyak teman-teman yang berjibaku menghidupkan kembali kearifan lokal. Bantu dong mereka…
kalo kearifan lokal versi wong londo piye??
karena tidak ada jarak antara kearifan lokal dengan kemajuan masyarakat pada umumnya, maka di Belanda dan negara maju lainnya kearifan lokal identik dengan budaya keseluruhan masyarakat barat. Di Indonesia yang terjadi adalah pembrangusan kearifan lokal. Kita diamkan?
hmmm, terkadang, saya pusing baca istilah yang susah2
*log out
itulah salah satu gunanya ujian hapalan hehehe..
Bukan, bukannya mau membantah, toh yang sampeyan tulis adalah potret nyata.
Saya sependapat, diam bukan pilihan, walau mungkin ada yang memilih itu.
Yang saya pertanyakan lebih ke arah pilihan ataupun spesifikasi apa yang bisa kita lakukan.
Piye ? *halah fulan, gak gelem mikir*
banyak pegiat-pegiat LSM yang sudah menekuni ini kok Kang
Sampean itu doctor di bidang apa seh kang? Kok aku gak ngerti blas sing ditulis iki…. Opo aku iki gak arif ta???
Hehe mohon maaf kalau tulisan saya kurang dimengerti. Tulisan2 diblog ini tidak ada hubungannya dengan dunia profesional saya. Hanya catatan-catatan pribadi. Tapi kalau membaca link2 yang ada dalam tulisan di atas mungkin membantu?
Sedih deh bacanya.
Sudah seharusnya kita (sebagai masyarakat) mendorong pemerintah untuk memproteksi & menjamin hak Ibu (perempuan) dan anak.
Mis.: -Pria dilarang berhubungan intim (seks) dgn perempuan di bawah 17th. Pelanggaran ini akan dikenakan hukuman berat (min. 5th penjara). Begitupun orang tua yg menjual anaknya.
- Anak perempuan berhak mengatakan tidak ke ortu jika dikawinkan sebelum berumur 17th (walaupun anak itu sdh terlanjur hamil).
apakah hukum/peraturan adalah jalan keluarnya? Banyak peraturan di Indonesia gak bisa berjalan juga. Nanti korbannya orang kecil juga. Yang menindas mereka malah luput.
Hukum di Indonesia terkut*k ini memang banyak masalah…ga mempan buat masyarakatnya yang kebanyakan memang ga disiplin,ga teratur dan ga mau di atur….
Percaya ga klo suatu saat..masyarakat Indonesia ini bisa jadi orang2 yang disiplin,,arif ..bijak dalam bertindak ,,dst dst…
saya sie pilih kabur ke luar Indonesia aj deh he3
kang Adhi ..ikut donk ke belanda wekekkekeke
Sangat membantu dan inspiratif. Kearifan lokan tetap harus digali untuk mengatasi permasalahan yang ada.
bingung………………………….. berkata… haha///
meskipun germo, tapi jagn dipandang bahwa itu bukan kearifan lokal…….(kan supaya anak n keluarganya tetap survive) daripada negara tidak memberikan jaminan kesejahteraan………..
Awamologi yang aku gagas sebenarnya juga untuk membuat diriku lebih arif. Ini “ilmu” rendah hati untuk orang awam. Tapi, menurutku, biarlah kita tetap menampakkan dengan jelas kekhasan identitas masing-masing tanpa harus mengajak bertanding (kalah-menang, klaim kebenaran, dsj). Apakah diriku sudah arif? Mohon dikoreksi.
Salam damai (awamologi.wordpress.com).