Harian Kompas pagi ini, 14/08/2007, memuat dua hal menarik. Satu iklan berwarna penuh, berlatar merah putih dari Freedom Institute tentang pemenang Bakrie Award. Dan satu berita kecil tentang penolakan salah seorang pemenang, Frans Magnis Suseno. Mengapa ia menolak?
Frans Magnis ditetapkan sebagai pemenang karena jasanya membahas masalah bangsa dari sudut etika selama empat puluh tahun. Etika bukanlah ajaran moral, melainkan telaah kritis tentang ajaran moral. Dengan etika, warganegara sanggup mengembangkan moralitas baru maupun memperbaharui moralitas. Etika membebaskan manusia dari moralitas copy paste yang membebek dan mengkangkangi akal budi. Selain 33 buku karya, Magnis menulis ratusan artikel lepas diberbagai media.
Frans Magnis Suseno, rohaniwan, budayawan, kolumnis, dan guru besar etika itu menolak sebuah award yang berlumuran lumpur sidoarjo. Pasalnya, Bakrie anak keturunan yang namanya diabadikan dalam award, dan tentu menjadi penyandang dana Freedom Institute itu, terlibat dalam kasus kemanusiaan lumpur lapindo brantas yang belum selesai juga.
Para budayawan seperti Natan Setiabudi, Chalid Muhammad, Rieke Dyah Pitaloka, Tjuk Kasturi Sukiadi, Bondan Gunawan, Fajroel Rachman dan Benny Susetyo memberi dukungan atas sikap Magnis.
Ada lima alasan dukungan itu diberikan: (1) Bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo adalah kejahatan kemanusiaan (2) Masyarakat intelektual harus mendukung rakyat bukan kaom modal yang menginjak harkat dan martabat rakyat. (3) Masalah lumpur panas adalah masalah Negara yang absen atau membiarkan masyarakat tertindas. (4) Ada pelanggaran konstitusional dalam penyelesaian masalah lumpur panas. (5) kaum intelektual bersama rakyat harus melawan pelanggaran ini dengan menyampaikan mosi tidak percaya terhadap pemerintah.
Nah omong-omong soal pelanggaran konstitusi, beberapa harian ibukota juga memuat berita menarik. Mahkamah Konstitusi yang dikomandoi Jimly Asshiddiqie sedang bersuka ria. Pasalnya gedung kantor baru mereka baru jadi. Gedung kantor megah di atas tanah 4,2 ribu m2 itu bertiang 9, lambang 9 hakim konstitusi, dibangun dengan dana 196 milyar rupiah. Ironis.
Kembali ke Bakrie Award, ketua Freedom Institute, Rizal Mallarangeng berkomentar lucu, menggunakan logika yang sama sekali tidak intelektual bahkan immoral. Katanya, “Penolakan Frans Magnis tetap harus dihargai. Penghargaan Achmad Bakrie 2007 yang disampaikan Freedom Insitute tidak terkait dengan masalah lumpur panas di Sidoarjo.
Lucu, karena logika Rizal mengesahkan semangat yang rumusan sinisnya begini “Mari kita kelola uang dari perampok untuk memperbaiki citra perampok. Uang itu tidak ada hubungannya dengan perampokan kok”.
Lho? Begitukah wajah intelektual Indonesia yang mengabdi modal?
Kang Adhi
Kalau ngeBLOG Jangan Emosi, Dong!






Waduh mas, memang memiliki pemerintah yang sepertinya tidak berpihak pada rakyat kecil itu kadang makan hati ya. Kalo ada masalah yang dibelain justru orang-orang yang kaya/ berkuasa.
Bahkan untuk lewat jalan yang sedikit nyaman saja orang harus mampu punya mobil dan bayar TOL ya.
Dan salah satu yang memprihatinkan saat pemerintah ngekspor pembantu seperti komoditi (pahlawan devisa katanya).
# salam kenal
#
salam kenal kembali
semoga lebih banyak orang seperti pak Frans..
dan orang² korup dihabisi sahaja..
jadilah anggota KPK, mas.
Frans Magnis dkk termasuk golongan wajah intelektual yang tidak mengabdi modal kan? Nah, kalau Rizal M mungkin bagian yang mengabdi modal - jadi komentarnya betul (menurut dia). Karena ada modal yang harus diperjuangkan.
sepakat!
untunglah, masih ada ’sesuatu’ yang tak terbeli oleh uang.
selamat buat pak Frans Magnis!
ohya, kemarin pas ke jakarta sempet liat tuh, bangunan baru MK, gilaw..gede bener..mantap..kokoh…semoga bukan buat gagah2an aja…tapi kinerja juga semakin mantap.
semogalah begitu.
bisa bangun gedung megah seharga 169 milyar, tapi kok rakyat tetep miskin, ya? …
jadi indonesia itu kaya apa miskin yak?
Indonesia benar2 cinta produk (makanan) dalam negeri ya…. yaitu gado-gado
Lha komplit mulai dari uang yang berlebihan (169 M) untuk mendirikan gedung, korban2 lumpur yang semakin terpuruk, adanya hati nurani (Frans Magnis), logika aneh versi Rizal.
Atau mungkin ini merupakan penerapan sila kelima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia…
Adil kan seimbang, jadi harus ada yang menderita dan bersuka cita supaya “timbangan” tetap adil dan stimbang
Ralat:
Maksud saya Adil kan seimbang adalah bukan sama rata
Tapi intinya adalah adanya prinsip penyeimbangan…penyesuaian
ralatnya diterima
Konsistensi akan prinsip dan nurani - itulah yang mestinya lebih banyak dimiliki oleh anak bangsa dalam menyikapi kezhaliman yang terjadi - semoga orang macam Pak Frans bisa lebih banyak lagi dan bersinergi buat kebaikan bangsa/negara.
semoga para bloggers juga berhati nurani, gak cuma narcis
Saya cuma mampir buat mengucapkan: SALUT PAK FM SUSENO!!
Salam kenal, mas
salam kenal kembali deh
hehehe, kecelik tuh Bakrie Award.
Tadi sore ada berita di tivi, seorang korban lumpur lapindo mengembalikan uang lantaran uang di rekening si korban, kiriman pihak tuan modal melebihi jumlah yang harusnya diterima. … *potret rakyat kecil bermental FM Suseno*
ah … Yang Dipertuan Jimly Asshiddiqie, … kalo gak salah, beliau melantik dirinya sendiri ya … “mahkamah jadi-jadian” tersebut pernah menganulir amar putusannya sendiri lantas memenangkan “tuan modal”
Sebutan apa yang pantas untuknya?
@ 10
ah … Yang Dipertuan Jimly Asshiddiqie, … kalo gak salah, beliau melantik dirinya sendiri ya … “mahkamah jadi-jadian” tersebut pernah menganulir amar putusannya sendiri lantas memenangkan “tuan modal”
Sebutan apa yang pantas untuknya?
Bajingan Konstitusi? Godfather of the bastards?
Apa lagi ya?….
*cari-cari nama terkasar*
kalo nggak salah pak FMS juga makan nasi khan? koq bisa pemikirannya bisa beda dengan bapak bapak kita yang lain ya?…
pepatah “rambut sama hitam, pikiran beda-beda”
Duh ironis.. no comment deh ..cuma bisa berharap kaum intelek macem FM suseno jadi pemimpin berikutnya hahah … *berdoa*
kalau yang dimaksud pemimpin adalah presiden, dpr, mpr itu mah butuh modal
Salut buat Pak Frans Magnis…. paling tidak harusnya bisa jadi contoh untuk
yang merasa jaditokoh nasional lainnya. Jangan mau dibeli dengan uang…..orang yang bisa dibeli dengan uang disebut pelacur
Padahal Achmad Bakrie membangun usahanya dengan idealisme dan kerja keras. Kenapa keturunannya jadi lain ?
Kita butuh orang lain yang seperti FMS….
*kalau menjual tubuh demi kepentingan modal itu namanya pelacur, Kang… tapi kalau menjual otak demi kepentingan modal itu namanya pelacur intelektual*
mempertahankan idealisme memang tidak mudah apalagi di tengah gelimangan harta yang menjanjikan masa depan. tetapi tindakan/pemikiran yang digagas Franz Magnis suseno kiranya menjadi pencerahan/mengiluminasi cara berpikir para pemimpin/penjahat (eh maaf maksud saya :pejabat”
yang sedang terkepung dalam pusaran materialisme dan hedonisme. salut baget buat romo Magniz yang bukan hanya berjuang melalui kata-kata tetapi prinsip hidup yang perlu kita teladani!!!!
sungguh ironis memang rakyat tidak diperhatikan dalam kesusahan maupun tertindas selalu menjadi korban kejahatan pemodal.memang pemimpin kita perlu di didik dengan kritik maupun saran.pemimpin kita butuh didikan sopan santun,hukum,dan moral. karena pemimpin kita telah melanggar ketiganya.tragis memang memberikan penghargaan kepada orang berprestasi namun melupakan
orang tertidas.sopan santun takluk kepada hukum dan moral ,serta sopan santun dan hukum takluk kepada moral.
dan kepada siapa moral takluk?tentu saja rakyat ,dan bisa jadi sang penguasa negeri ini.
Salam merdeka kepada kepada Romo FM.tahun depan semoga saya termasuk siswa anda Romo FM
gw kasihan liat kehidupannya para korban lumpur lapindo. kenapa sih masalah ini harus berlarut2? si bakri itu jg kan manusia emang ga da kasian2 nya dia ngeliat sesamanya susah?apalagi itu krn ulah nya sendiri kan??apa dia ud mati rasa kali ya?katanya indonesia itu negara hukum tapi kok hukum sendiri ga bisa berdiri tegak dalam kebijakannya?apa hukum di negara ini bisa di beli dngn uang? sampai kapan indonesia dikuasai oleh panguasa2 uang???
indonesia ga akan pernah maju kalo hanya berlandaskan dngn uang…harkat dan martabat bangsa tdk hanya di beli dngn uang…indonesia…negara kita sudah cukup susah…jangan dong kita buat negara kita itu lebih susah lagi…apalagi buat susah orang2 yg ud susah…dosa loh!!!
selamat romo magnis, guru teladan, pribadi yang manis,
terimakasih atas teladanmu,
bertahun saya pernah diajar romo di rawasari.
sebuah perwujudan totalitas kemanusiaan
pada sebuah wajah dunia yang kian tak menentu