Ada iklan setengah halaman berwarna di Kompas Hari ini. Isinya: Fauzi Bowo, Gubernur Jakarta pertama yang dipilih secara langsung mengucapkan terimakasih kepada Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny J.A. Ph.D.
Ucapan terimakasih di samping foto Fauzi Bowo itu disertai alasan yaitu “Lingkaran Survei Indonesia telah membantunya sejak dua tahun lalu melalui tracking survey, mobilisasi dukungan, konsultasi strategi dan quick count, sehingga Beliau terpilih menjadi Gubernur DKI 2007-2012”.
Selanjutnya ada foto Denny J.A, disertai sebuah ajakan yang isinya “Jika Anda kompeten memimpin daerah, punya komitmen dengan demorasi, Pancasila dan NKRI, mari bersama kita menang di Pilkada”.
Iklan ini tentu dapat dimaknai secara beragam. Saya mau mengambil salah satu sudut saja. Silakan kalau Anda mempunyai sudut pandang yang lain dapat menambahkannya di kolom komentar.
Seandainya benar bahwa kemenangan Fauzi Bowo sangat berkorelasi dengan dengan tracking survey yang dibuat LSI, proses demokratisasi di Indonesia berada pada track yang benar. Yaitu isu-isu otoritas politik yang terpilih mencerminkan harapan mayoritas rakyat. Artinya, kalau ada isu-isu sektarian (baik terbuka maupun terselubung). ideologi fascistik yang mencoba mempengaruhi rakyat dengan cara membodohi, menakut-nakuti, atau membangkitkan sentiment ras/golongan/agama dapat dengan mudah dipatahkan. Caranya adalah lembaga macam LSI, media massa, mungkin juga blogger, memperlihatkan secara gamblang bahwa rakyat mempunyai keinginan yang berbeda.
Para calon pemimpin politik dengan demikian akan dipaksa untuk membangun citra, image, dan menyusun program kerja yang dapat merangkum harapan rakyat yang nyatanya memang pluralistik.
Tentu saja, proses politik untuk meraih kemenangan pemilu/pilkada tidak sesederhana membangun citra yang sesuai dengah harapan rakyat. Diperlukan jam terbang untuk dapat bermain dengan atau saling mempermainkan para bandar politik, makelar politik. Dan itu berarti soal ongkos alias modal. Maka kompetensi memimpin daerah tentu harus dibarengi dengan mobilisasi dana, bargain politik dan modal. Di bagian ini ada wilayah abu-abu, yang sulit untuk menjadi transparan.
Namanya juga iklan. Ia adalah bagian dari promosi dagang. Lalu, pertanyaannya apakah ada iklan yang tulus? Harapan kita, idealisme kerakyatan semoga tidak tunduk pada kepentingan modal dan politik.
Kang Adhi
Kalau ngeBLOG Jangan Emosi, Dong!






Pertama
amin
amien kang, semoga kedepan bisa
aha! artinya yang namanya survey itu sama dengan proyek pemenangan pemilu. Baru tahu saya. Rupanya makna survey sudah tergelincir sedemikian jauuuuuh…
wah baru tahu?
saya hanya berharap jika iklan tersebut bercerita tentang kejayaan masa lalu adakah iklan yg ingin bercerita tentang masa depan, tentang janji2 sang terpilih dan dikontrol sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab si lembaga yg turut mendukung sang pemimpin tersebut
kita tunggu aja.
OOT :
yang diperlukan rakyat adalah realisasi dari janji-janji tho kang!
janji-janji tinggal janji
Hehehe sebenarnya dalam pilkada yang diiklankan itu program (beserta visi misi) atau orangnya ya …
apa aja yang penting menang
Iklan itu selain jalur perdagangan juga jadi jalur politik, ya?
hhmm.. hmmm…
tak aneh juga, penguasa sama pengusaha pan satu keping mata uang dengan dua sisi berbeda
namanya juga jodoh
namanya orang punya duit bisa ngapa2in…
hehe duit ya kuncinya?
ah g juga
tetangga ku py duit g bs ngapa2in.sking bingungnya kalee
suruh bagi-bagi duit aja..
siap2
bayargandeng LSI ah…oke pak calon!
bentar LSI itu ada dua macam,lho. yg satu lembaga survey independen, lainnya adalah konsultan politik. dua duanya dinakhodai denny j.a.
jadi ini malah oom bowo sendiri yg susah membedakan dia compliment buat lsi yg mana … huehehehhe
saya aja susah, apalagi end useer kayak fauzi bowo.
sama kaya make KAP yg jadi konsulting firm juga. makanya, biar udah dipecah beda institusi, tetep aja beribet. inget jamannya arthur andersen, andersen consulting dengan accenture dulu …
uuuuu.dasar fauzi bowo …si *SERAHKAN PD AHLINYA * ahlinya apaan ! ahlinya mendatangkan BANJIR,KEMACETAN,SAMPAH,POLUSI,DAN SEGUDANG MASALAH DIJAKARTA.. Jakarta mungkin tdk bis amaju jika anda masih memerintah
ya, begitulah para politisi. ikut survei cuma karena motivasi menang….nanti kalo dah menang buntut-buntutnya tidak menjalankan program yg dicanangkan sendiri.