Sejak Kamis (23/08/2007) s.d. Minggu (26/08/2007) saya melakukan perjalanan ke Jawa Tengah, (Yogya, Solo) dan ke Jawa Timur (Madiun). Perjalanan saya lakukan dengan kereta api. Yang pertama dengan Kereta Argo Dwipangga jurusan Gambir – Solobalapan.
Sengaja saya memilih membeli tiket pada hari keberangkatan di stasiun Gambir. Persisnya 1 jam sebelum berangkat, yakni pukul 19.00. Yang antri lumayan banyak, tetapi saya kira semuanya mendapat tiket. Karena selain Argo Dwipangga masih ada kereta lain yang ke Yogya yaitu kereta Taksaka. Jadi penumpang tujuan Yogya punya dua pilihan.
Yang saya heran, ternyata calo-calo karcis di stasiun Gambir masih tetap ada. Mereka terang-terangan menawarkan jasanya mulai dari pintu masuk sampai di sekitar loket. Ada petugas keamanan juga. Tetapi mereka membiarkan saja calo-calo itu beroperasi.
Seingat saya beberapa tahun lalu, ada cukup gencar kampanye anti calo di stasiun Gambir. Lengkap dengan spanduk dan janji kalau penumpang dapat menginfokan keberadaan calo, pihak Kereta Api akan memberi reward tertentu. Sekarang, apa Bapak/Ibu Kepala Statiun apa tidak malu dengan keberadaan calo-calo tersebut? Atau takut? Atau malah bekerjasama? Atau tidak ada anggaran untuk menanggani calo? Harapan saya pihak berwenang berkenan menindaklanjutinya.
Pada saat pulang dari Madiun saya juga naik kereta Api, kali ini Kereta Bangun Karta yang selain menyediakan kelas bisnis juga kelas eksekutif. Harga tiket eksekutif lumayan murah Rp 150 ribu. Kereta ini melayani jalur Jombang Pasar Senen. Di stasiun Madiun saya tidak menjumpai calo berkeliaran. Meskipun kelas eksekutif, toilet di gerbong itu minta ampun jeleknya. Bau pesing dan kotor karena air tidak mengalir.
Saya turun di stasiun jatinegara, pagi-pagi sekitar pukul 05.15. Saya terkejut ketika melompat dari gerbong, karena ada banyak tunawisma tidur di peron antara rel satu dengan rel yang lain. Saya cukup yakin kalau mereka adalah gelandangan karena pakaian yang mereka pakai, dan tidur beralaskan koran saja. Lagi-lagi pertanyaan saya ajukan untuk Kepala Stasiun: apakah mereka tidak mampu menjaga kebersihan stasiun?
Soal jadwal keberangkatan Kereta Api, saya acungi jempol. Kereta berangkat on time. Tetapi jadwal kedatangan terlambat 1 sampai 2 jam dari janji yang tertera di tiket. Konon memang tidak pernah jadwal kedatangan selalu on time. Mengapa jadwal kedatangan tidak diubah saja sesuai dengan realita. Kalau yang ditulis di tiket atau di papan pengumuman di tambah 1 atau 2 jam lebih lambat, saya kira itu lebih jujur. Mengapa itu tidak dilakukan?
Bukankah lebih baik jujur dari pada setiap hari ingkar janji?
Kang Adhi
Kalau ngeBLOG Jangan Emosi, Dong!






haha… kalo ga telat ga seru
ada alasan untuk telat-telat yang lain khan?
Oh baru safari keliling kota ya Kang? Pantesan lama gak ada tulisan baru.
Calo tiket banyak. Kalau calo surga ada gak ya?
calo surga lebih banyak kaleee..
Ho..ho…. Kang Adhi sedang survey pelayanan transportasi kereta atau tunawisa?
Agaknya sarana transportasi di negeri kita memang erat kaitannya dengan kaum “gepeng” (gelandangan dan pengemis). Tak hanya kereta api, di terminal-terminal juga banyak tuh kaum “gepeng”-nya. Ini menyangkut nasib kehidupan rakyat kecil. Kalau di tempat-tempat semacam itu banyak berkeliaran kaum tunawisma, menerut hemat saya, kok, jangan disalahkan kaum “gepeng”-nya. Tapi lihat tuh, orang-orang yang bisa ngorok dengan nikmatnya di gedung senayan yang megah. Apa pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk ikut membantu mengurangi kaum “gepeng”. Kasihan kalau mereka harus diusir lantaran nggak punya tempat hunian.
tul “gepeng” jangan disalahkan, yang disalahkan yang gak bisa menyejahterakan mereka
Setahu saya kang, Transportasi Massal di Indonesia yang tidak bebas calo adalah PT. KAI dan PT. Pelni. Mereka sangat alergi dengan yang namanya TI.
Apa sulitnya menjadikan sistim pemesanan tiket menjadi On Line ???
Bilamana ticketing mereka menjadi On Line, maka saya berani jamin akan bebas calo.
Tapi mereka memang sengaja tidak membuat On Line sistem mereka, sebab, bisa-bisa mereka kehilangan keuntungan tambahan dari Nyalo.
Waaa.ka…ka…ka…
Calo itu usaha yang haram. Jadi kita jangan beli barang yang haram.
(kabuuuurrr…….)
mendukung komentar mas dewo di bawah
Wah, Bro Mbelgedez kayaknya harus menebar ayat2 suci dulu sebelum mengharamkan calo
(** Kabur **)
kalau jadwal kedatangan ditambah 1 jam jadinya nanti malah telat 2 sampai 3 jam mas
Kang naik TGV aja, ngak ada calo & reservasi tiket pakai internet jauh lebih murah.
Wah, saya tiap bulan 1-2 kali naik kereta api dan calo itu ada terus kok mas bahkan 3 tahun terakhir semakin parah.
Tiket kereta akhir pekan hampir selalu di calokan.
Tahun 2004 tiket untuk mudik lebaran masih bisa didapat 30-25 hari sebelum keberangkatan.
Tahun ini tiket habis setelah 15 menit loket dibuka (di Jatinegara).
Betul mas, jam kedatangan kereta memang hampir selalu terlambat 1-2 jam.
sebelum keberangkatan bisa juga kan kang kita nyari duit tambahan buat jajan, jadi calo haha
*lumpaaaaaat
Indonesia tanpa percaloan? Tanpa korupsi?
Seperti ….. makan nasi dengan sambel trasi, tapi ikan asinnya lupa beli. Kurang sedap, kan?